SMRC: 70 Persen Ekonomi Rumah Lebih Buruk Sebelum Masa Pandemi Covid-19

Home / Berita / SMRC: 70 Persen Ekonomi Rumah Lebih Buruk Sebelum Masa Pandemi Covid-19
SMRC: 70 Persen Ekonomi Rumah Lebih Buruk Sebelum Masa Pandemi Covid-19 Ilustrasi - Kegiatan jual beli dipasar tradisional (FOTO: Antarafoto/aditya P Putra)

TIMESJAKARTA, JAKARTA – Lembaga penelitian Saiful Mujani Research And Consulting (SMRC) mengungkapkan hasil survei terhadap masyarakat yang bertajuk RUU Cipta Kerja dan Ekonomi Pandemi: Opini Publik Nasional.

Dalam hasil survei ini menunjukkan mayoritas warga, 70 persen merasa kondisi ekonomi rumah tangganya sekarang lebih buruk atau jauh lebih buruk dibanding sebelum ada wabah Covid-19. Sisanya, sekitar 19 persen merasa tidak ada perubahan, 9 persen merasa lebih baik, dan 1 persen tidak menjawab.

“Memang terjadi penurunan penilaian warga yang merasa kondisi ekonomi rumah tangganya sekarang lebih buruk bila dibandingkan pada survei 20-22 Mei sebesar 83 persen Tapi penilaian 70 persen itu masih tetap besar,” kata Abbas.

Survei SMRC ini juga menunjukkan bahwa dalam sebulan terakhir ada peningkatan harapan warga terhadap kondisi ekonomi nasional. Mayoritas warga, 75 persen memang mengaku pendapatan merosot setelah adanya wabah. Namun demikian, 49 persen warga optimistis kondisi ekonomi rumah tangganya akan lebih baik setelah wabah Covid-19 berakhir. Sementara yang menilai menjadi lebih buruk atau tidak ada perubahan 45 persen.

Mayoritas warga, 84 persen, juga menilai kondisi ekonomi nasional sekarang lebih buruk atau jauh lebih buruk dibanding tahun lalu. Namun dibandingkan survei 12-16 Mei, di mana 92 persen warga menganggap kondisi ekonomi nasional memburuk, dapat dikatakan ada penurunan persentase mereka yang pesimistis.

Warga yang optimistis dengan ekonomi rumah tangganya, yakni yang menilai ekonomi rumah tangga tahun depan lebih baik atau jauh lebih baik dibanding sekarang, mencapai sekitar 44 persen. Sedangkan,  yang menilai akan lebih buruk atau jauh lebih buruk atau tidak ada perubahan 43 persen.

“Warga secara umum masih kurang optimistis dengan kondisi ekonomi nasional: hanya 36 persen yang menilai ekonomi nasional tahun depan akan lebih baik dibanding sekarang. Namun demikian, dibanding temuan bulan lalu (5-6 Mei 2020) di mana yang merasa optimis hanya 27 persen, optimisme warga sekarang dalam melihat kondisi ekonomi nasional ke depan terlihat sedikit menguat,” kata Abbas.

Menurut Abbas, adanya peningkatan optimisme itu mungkin antara lain terpengaruh oleh dimulainya era Normal Baru yang diharapkan turut mendongkrak aktivitas ekonomi nasional. Namun Abbas mengingatkan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 oleh berbagai lembaga terkemuka menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia masih akan negatif, misalnya Kementerian Keuangan (-0,40); IMF (-030); ADB (-1,040), hingga OECD (-2,80).

Karena itu, intervensi negara mutlak diperlukan agar skenario positif yang dibayangkan warga bisa terwujud. Menurutnya, Pemerintah harus tegas mempermudah izin usaha dan mempermudah perolahan modal usaha bagi terutama masyarakat kalangan kecil dan menengah. Kalangan tersebut akan bisa menjadi faktor penentu kebangkitan ekonomi Indonesia. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com