Ketua MPR RI Dorong Museum Bom Bali Jadi Tujuan Wisata

Home / Berita / Ketua MPR RI Dorong Museum Bom Bali Jadi Tujuan Wisata
Ketua MPR RI Dorong Museum Bom Bali Jadi Tujuan Wisata Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. (FOTO: Dok MPR RI)

TIMESJAKARTA, JAKARTA – Museum penaggulangan terorisme 'Prakasa Rucira Garjita' di Denpasar, Bali menyimpan sekelumit memori tentang tragedi Bom Bali. Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai, Museum Prakarsa Rucira Garjita atau museum Bom Bali bisa menjadi objek wisata yang menarik bagi turis. Museum tersebut merupakan museum pertama tentang penggulangan terorisme di Indonesia. 

Dalam museum tersebut, tersimpan sejumlah barang yang Satgas antiteror Densus 88, BNPT, dan seluruh stakeholder kepolisian daerah Bali dalam menangkap teroris Bom Bali seperti Imam Samudera, Amrozi, Ali Ghufron hingga Dr. Azhari.

Perangkat digital forensik maupun persenjataan yang dipakai penegak hukum dalam membekuk para teroris terpajang di bangunan museum tersebut. Duplikat mobil L 300 warna putih berisi bom dan TNT seberat 1 ton yang dipakai saat serangan teror di Sari Club dan Paddy's Legian, Kuta,12 Oktober 2002 malam juga dapat ditemui di sana. 

Ada juga sepeda motor Yamaha F1Z R warna merah yang digunakan teroris Ali Imron untuk melakukan survei lokasi, sebelum meledakan bom di Legian atas perintah trio Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron.

"Bahkan ada video penggerebekan Tim kepolisian yang saat itu diperkuat Tito Karnavian, Petrus Reinhard Golose, dan Rycko Amelza Dahniel dalam membekuk buronan teroris internasional Dr. Azhari di Batu, Malang pada 2005. Kini ketiga personil kepolisian tersebut sudah menjadi orang hebat," ucap Bamsoet, sapaan akrabnya, dalam keterangan tertulis, Minggu (2/8/2020).

"Pak Tito menjadi Kapolri hingga Menteri Dalam Negeri, Pak Petrus menjadi Kapolda Bali, dan Pak Ryco menjadi Kabaintelkam Mabes Polri. Bahkan anggota Densus lainnya, Idham Azis kini jadi orang nomor satu di Polri (Kapolri)," imbuh Bamsoet.

Bamsoet menuturkan, Museum Prakasa Rucira Garjita berdiri sebagai monumen pengingat ihwal terorisme atas dalih apapun, apalagi dengan memanipulasi ajaran agama, tak bisa dibenarkan. Sebagai negara yang majemuk, lanjut Bamsoet, Indonesia dibangun berdasarkan ideologi Pancasila. Agar terorisme tak menjadi momok bagi Indonesia, penanaman nilai Pancasila mutlak dilakukan kepada generasi muda dan berbagai lapisan masyarakat.

"Museum Prakasa Rucira Garjita juga menjadi pengenang jasa pengabdian petugas kepolisian yang gugur saat menjalankan tugas membekuk para teroris. Sebagai contoh, disini menyimpan bodyvest putih yang dipakai (almarhum) Briptu Anumerta Suherman yang gugur saat melakukan penggerebekan teroris di Solo pada September 2012. Nama mereka terpatri abadi dalam museum, sebagai pertanda banga Indonesia tak melupakan jasa dan pengabdian mereka," terang Bamsoet.

Pihaknya juga mendorong Polda di berbagai wilayah bisa meniru langkah serupa dalam mengabadikan momen bersejarah di wilayahnya. Tak hanya dengan membangun museum, tapi bisa juga diwujudkan dalam sebuah karya yang bisa menjadi nilai tambah bagi daerah, khususnya yang berhubungan dengan penegakan hukum.

"Presiden Soekarno dengan tegas sudah mengingatkan jangan sekali-kali meninggalkam sejarah (Jas Merah). Dari sejarahlah kita bisa memetik pelajaran. Sejarah Bom Bali I, Bom Bali II, dan berbagai tindakan teror lainnya harus menjadi pelajaran untuk semakin menguatkan solidaritas kebangsaan guna menutup berbagai kemungkingan celah tindakan teror di masa depan," tandas Bamsoet, Ketua MPR RI. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com