Sinergi dan Kontribusi Kaum Hawa dalam Membangun Negeri

Home / Kopi TIMES / Sinergi dan Kontribusi Kaum Hawa dalam Membangun Negeri
Sinergi dan Kontribusi Kaum Hawa dalam Membangun Negeri Anisa Salamah, Mahasiswi Jurusan PGSD Universitas Peradaban.

TIMESJAKARTA, BUMIAYUKATA Perempuan yang di dalamnya terdapat kata “empu” pada zaman dahulu merupakan panggilan dari raja atau orang yang dihormati, sedangkan dalam KBBI kata “empu” mempunyai arti gelar kehormatan yang berarti ‘tuan’ atau mulia. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya perempuan adalah seseorang yang harusnya lebih dihormati dan lebih dimuliakan dalam ranah sosial kemasyarakatan.

Kedudukan perempuan dan laki-laki sama dalam kehidupan bermasyarakat untuk bisa mendapatkan hak dan menjalankan kewajibannya sebagai makhluk sosial. Namun di beberapa tempat, perempuan dianggap lebih rendah dari pada laki-laki. Kaum hawa kurang mendapatkan tempat di dalam kehidupan sosial. Praktik kekerasan dan pelecehan seksual masih menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus diselesaikan secara konkrit dan komprehensif. 

Ruang dan mimbar untuk berekspresi serta berkreasi bagi kaum hawa menjadi sebuah hal yang perlu menjadi perhatian bersama. Stigma yang terbangun dalam masyarakat ialah kaum hawa terbatasi dengan tugas ”sumur, dapur dan kasur”. Stigma tersebut membuat ruang gerak kaum hawa semakin terbatas. Perlu adanya rekonstruksi terhadap framing bahwa tugas kaum hawa bukan hanya sebatas sumur, dapur dan kasur saja. Kaum hawa memiliki hak untuk berpartisipasi, bersinergi dan berkontribusi membangun negeri.

Banyak negara-negara di dunia yang menganut sistem patriarki yang merupakan kekuasaan utama dipegang penuh oleh laki-laki termasuk dalam aspek kepemimpinan politik, otoritas moral, hak-hak sosial, otoritas keluraga, bahkan beberapa masyarakat juga mewariskan properti dan gelarnya terhadap anak laki-laki (patrilineal). Secara tidak langsung sistem yang seperti ini menempatkan perempuan di bawah laki-laki, yang menunjukan bahwa perempuan tidak diberi kesempatan untuk berpartisipasi untuk bersinergi dan berkontribusi dalam pengambilan keputusan maupun pelibatan perempuan dalam pembuatan kebijakan secara universal.

Sampai saat ini masih banyak perempuan yang masih mengalami diskiminasi sosial, pelecehan seksual serta hak-haknya terabaikan. Kaum hawa harus terjamin hak-haknya, masyarakat secara umum harus melindungi dan memberikan rasa aman serta nyaman kepada kaum hawa demi terciptanya harmonisasi dalam mewujudkan masyarakat yang demokratis tanpa diskrimanasi. 

Dalam kodratnya, perempuan memang ditakdirkan sebagai pendamping laki-laki. Hal itu tidak dapat menjadi penghalang untuk perempuan satu langkah lebih maju dengan tetap mengedepankan harkat dan martabat perempuan yang mempunyai hak-haknya sendiri.  Di Indonesia sudah tidak asing lagi di kalangan perempuan bahkan laki-laki mengenai pahlawan perjuangan emansipasi wanita Raden Ajeng Kartini dalam memperbaiki tatanan kehidupan kaum hawa sekaligus sebagai pelopor kesetaraan derajat antara perempuan dan laki-laki di Indonesia. 

Raden Ajeng Kartini merupakan sosok yang sangat inspiratif bagi kaum hawa di Indonesia. Melalui gagasan, ide dan aksi nyatanya, RA Kartini dapat melepaskan belenggu ketidak adilan yang dirasakan oleh kaum hawa. Berawal dari larangan mengejar cita-cita untuk bersekolah, dan melihat kemajuan perempuan di negara-negara yang ada di Eropa, membuat RA Kartini mempunyai semangat untuk memperjuangkan hak-hak perempuan di Indonesia terutama dalam bidang pendidikan. 

Semboyan “habis gelap terbitlah terang” yang mempunyai makna bahwa setelah ada kesulitan pasti ada jalan atau ada kemudahan merupakan sebuah spirit yang dipegang teguh oleh RA Kartini dalam memperjuangkan hak-hak kaum hawa. Seperti kesulitan pada zaman dahulu dimana perempuan diperlakukan sebelah mata, direnggut haknya untuk berpendidikan, dipaksa menjalani pernikahan pada usia belia, bahkan hanya diperbolehkan tinggal dirumah untuk mengurus anak. Dari masalah-masalah tersebut, RA Kartini berjuang untuk menyetarakan hak antara perempuan dan laki-laki, salah satunya dalam bidang pendidikan, dengan mengajari cara membaca dan menulis di kalangan perempuan dewasa hingga anak-anak.

Bukan hanya RA Kartini saja yang menjadi inspirasi bagi kaum hawa. Publik masih ingat dengan Marsinah, seorang aktivis dari kaum hawa yang menginspirasi dalam memperjuangkan Hak Asasi Manusia dan kesejahteraan kaum buruh pada masanya. Sosok Marsinah memang menjadi sebuah inspirasi bahwa kaum hawa memiliki peran dan fungsi yang sama dalam membentuk tatanan masyarakat yang adil, tanpa sebuah penindasan dan ketidak pastian hukum yang membelenggu masyarakat. Melalui aksi-aksinya, Marsinah berupaya untuk membebaskan belenggu yang menjerat kaum buruh.

Di era milenial sekarang ini, marilah kita meningkatkan partisipasi dalam kehidupan bersosial maupun berpolitik dalam segala tingkatan. Dukung dan suarakan penghapusan tentang kekerasan terhadap perempuan, sehingga kehidupan yang semestinya didapatkan perempuan terpenuhi. Seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim mengungkapkan sebagai berikut: “Al-Ummu madrastul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq” yang artinya ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.

Mari penuhi hak perempuan, lindungi dan berikan rasa aman serta nyaman dalam proses kehidupan sosial, budaya, pendidikan dan aspek lainnya yang mendukung untuk aktif berpartisipasi dalam membangun negeri. Cegah kekerasan terhadap  perempuan. Bangsa yang kuat teletak pada perempuan yang kuat dan terdidik.

***

*)Penulis: Anisa Salamah, Mahasiswi Jurusan PGSD Universitas Peradaban.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Tags:

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com