Ekospiritualisme Menyikapi Pandemik Corona

Home / Kopi TIMES / Ekospiritualisme Menyikapi Pandemik Corona
Ekospiritualisme Menyikapi Pandemik Corona Ribut Lupiyanto, Deputi Direktur C PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration).

TIMESJAKARTA, JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya resmi menyatakan wabah virus corona atau penyakit Covid-19 sebagai sebuah pandemik pada Rabu (11/3/2020) lalu. Penetapan ini lebih dari dua bulan sejak wabah ini mulai terdeteksi di Tiongkok.

Pandemik lebih terkait pada geografis penyebarannya. Secara sederhana, makna pandemik adalah wabah suatu penyakit baru yang menyebar di berbagai negara dalam waktu yang sama. Menurut WHO, status pandemik ditetapkan jika sebuah penyakit baru yang belum ada penangkal kekebalannya menyebar ke berbagai wilayah dunia tanpa diduga. Saat ini tercatat ada lebih dari 118.000 kasus Covid-19 di sedikitnya 114 negara, dan menewaskan lebih dari 4.000 orang.

Pandemik Corona merupakan salah satu bentuk bencana. Bencana memang takdir illahi. Namun daya dan upaya manusia mesti ditunjukkan guna membuktikan kemampuan kepemimpinannya sebagai khalifah di muka bumi. Upaya memitigasi bencana tidak hanya hadir baru-baru saja.

Teladan Nabi

Di zaman Rasululullah SAW pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra. Rasullah SAW bersabda, "Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta." (HR Bukhari).

Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.

Seperti diriwayatkan dalam hadits ini, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari)

Di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha'un, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.

Tha'un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia.

Jika umat muslim menghadapi hal ini, dalam sebuah hadits disebutkan janji surga dan pahala yang besar bagi siapa saja yang bersabar ketika menghadapi wabah penyakit. "Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya). (HR Bukhari)

Selain Rasulullah, di zaman khalifah Umar bin Khattab juga ada wabah penyakit. Dalam sebuah hadist diceritakan, Umar sedang dalam perjalanan ke Syam lalu ia mendapatkan kabar tentang wabah penyakit.

Hadist yang dinarasikan Abdullah bin 'Amir mengatakan, Umar kemudian tidak melanjutkan perjalanan. "Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhori).

Melek Ekospiritual

Al-Qardhawi (2002) menegaskan bahwa permasalahan lingkungan pada dasarnya merupakan persoalan moralitas sehingga solusi efektifnya adalah dengan revitalisasi nilai-nilai moral, keadilan, keramahan, dan sebagainya.  Parameter yang layak dimasukkan untuk menilainya adalah kepahaman dan kesadaran manusia. Kesadaran merupakan aksi maupun reaksi proaktif dari moral manusia yang menjadi pijakan dalam bertindak selanjutnya.

Manusia dituntut mampu belajar mengambil hikmah sekaligus membaca dinamika lingkungan (reading the words, reading the world). Hal itu dapat dilakoni jika manusia mampu menjadi ulil albab (manusia pemikir) yang senantiasa membaca (iqra’) atas segala kejadian.

Disinilah titik penting perlunya ummat muslim melek atau memiliki kecerdasan ekospiritual (Ecospiritual Quotient). Yaitu kemampuan berselaras dan menjaga alam lingkungannya dengan motivasi dan aksi berbasiskan nilai spiritual Islam. Aspek lingkungan mestilah ditempatkan sejajar dengan ekonomi, sosial, budaya, politik, dan lainnya dalam ibadah kontekstual.

Melek Ekospiritual tidaklah cukup hadir pada level individual. Ia mesti terkoneksi dan saling menguatkan secara komunal. Antar-stakeholder, antarwilayah, antarbangsa perlu duduk bersama dalam menghadapi penyebaran virus corona. Komunikasi intensif antar-stakeholder perlu melibatkan para ulama/rohaniwan yang selama ini masih terlupakan.

***

*) Penulis adalah Ribut Lupiyanto, Deputi Direktur C PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration).

*) Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com