Merawat Perpustakaan di Era Disrupsi

Home / Kopi TIMES / Merawat Perpustakaan di Era Disrupsi
Merawat Perpustakaan di Era Disrupsi Ferika Sandra, Mahasiswa Jurusan Perpustakaan dan Ilmu Informasi UIN Maulana Malik Ibrahim.

TIMESJAKARTA, JAKARTA – Dulu perpustakaan merupakan kawah candradimuka bagi kalangan pembelajar untuk mendapatkan gagasan baru dari membaca koleksi buku. Bahkan Karl Heinrich Marx saat tinggal di London pada 1849. Meski beberapa tahun menjadi warga London, ia berkesempatan membaca sebuah buku yang tersimpan di British Museum.

Reading Room di perpustakaan tersebut menjadi salah satu tempat pilihan Marx untuk membaca dan menuliskan buah pikirannya. Di ruangan inilah, Marx menyusun buku ekonomi politik yang mengkritik kapitalisme dalam tiga bundel.

Das Kapital, Kritik der politischen Oekonimie, demikian tajuk bukunya. Bundel pertamanya terbit pada di Hamburg, Jerman, 1867. Das Kapital, yang bermakna modal, merupakan sebuah pencapaian penting pada sejarah pemikiran ekonomi masyarakat Eropa pada abad ke-19.

Meski kala itu, perpustakaan merupakan tempat yang privat, dimana hanya orang-orang yang memiliki banyak harta yang mampu memiliki sebuah perpustakaan atau akses kedalamnya. Berbeda dengan masa sekarang, dimana perpuastakaan dapat diakses oleh seluruh kalangan. Bahkan dapat dimiliki oleh masing-masing individu, seperti perpustakaan pribadi, dan beberapa macam jenis perpustakaan lainnya.

Pun seiring perkembangan teknologi di tengah maraknya masyarakat informasi. Perpustakaan menjadi tempat rujukan pertama untuk seseorang mendapatkan sebuah data maupun informasi yang dibutuhkan mulai bergeser. Pun kekuatan perpustakaan selaiknya tak bakal pupus seandainya tetap mengikuti perkembangan tersebut.

Akses perpustakaan saat ini tentu terbuka untuk masyarakat yang membutuhkan informasi lebih dari sekedar ilmu. Dewasa kini, perpustakaan dapat dikatakan lebih berkembang dari periode ke periode sebelumnya. Memiliki lebih banyak koleksi, perkembangan sistem, sekaligus teknologi yang mendukung kemudahan akses dalam pelayanann perpustakaan.

Minim Pustakawan

Pada sistem kepustawanan, pengguna disebut sebagai pemustaka, yaitu seseorang yang mencari informasi. Pustaka merupakan segala jenis koleksi yang disimpan dalam perpustakaan. Pemustaka, yang merupakan seseorang yang ahli dalam bidang kepustakawanan cukup dibutuhkan.

Sepengalaman penulis dalam proses perkembangan perpustakaan, yang menjadi polemik hingga saat ini ialah staf tenaga ahli perpustakaan yang minim. Mayoritas staff tenaga perpustakaan bukanlah seseorang yang memang berprofesi sebagai pustakawan. Hal itulah yang menimbulkan beberapa kesenjangan dalam siklus perpustakaan.

Mafhum di ketahui, bahwa pustakawan merupakan seorang yang bertanggung jawab atas koleksi yang ada di perpustakaan. Seorang pustakwan yang berhak mengatur sistematika pustaka mulai dari tata ruang, tata letak, klasifikasi, guna memudahkan pemustaka menemukan sumber informasi yang diinginkan.

Pengamatan penulis data yang telah terkumpul dari beberapa perpustakaan dalam ruang lingkup kecil di Kabupaten Banyuwangi, beberapa perpustakaan bahkan belum benar-benar memiliki seorang pustakawan yang ahli dalam bidangnya. Walakin tidak sedikit perpustakaan yang terpaksa memperkerjakan seseorang yang tidak memiliki kompetensi kepustakawanan untuk membantu mengolah bahan pustaka, karena kurangnya tenaga pustakawan ahli.

Dampaknya beragam, mulai kesalahan tata letak koleksi, klasifikasi, katalogisasi, bahkan tidak mengenal teknologi yang digunakan dalam perpustakaan saat ini. Hal hal ini tentu sangan menghambat perkembangan perpustakaan. Pemustaka dapat dirugaikan karena hal ini, seperti koleksi yang ditemukan tidak sesuai, tidak mendapatkan bimbingan maupun penjelasan terhadap suatu koleksi yang diperlukan, dan yang pasti menghabiskan waktu mencari koleksi yang tidak terdeteksi letaknya.

Perpustakaan yang memiliki banyak koleksi dengan minimnya pustakawan menjadikan koleksi pustaka tidak dapat dimanfaatkan dengan baik. Kasus-kasus yang terjadi pada beberapa perpustakaan yang sangat mencolok ialah kurangnya pemahaman dalam pengelolaan teknologi yang telah disediakan. Banyak perpustakaan yang telah melengkapi teknologi dan sistemnya, namun tidak terimplementasikan dengan maksimal karena kurangnya SDM yang mumpuni.

Koleksi Terbengkalai

Permasalahan dalam kekurangan tenaga pustakawan berdampak pada promosi perustakaan yang kurang maksimal. Staff yang hanya sekedar karyawan biasa, seringkali kurang paham dalam memberi arahan dan petunjuk untuk pemustaka, informasi perpustakaan yangkurang jelas, hingga penyimpanan koleksi yang terkesan kurang terstruktur.

Kurangnya pemahaman pustakawan ahli berdampak pada koleksi yang terbengkalai, tidak terawat, dan cenderung menyebabkan kerusakan pada koleksi. Berbagai macam koleksi pustaka di dalam perpustakaaan seperti koleksi lama, yang perlu adanya perawatan ekstra untuk menjaga keaslian san keutuhannya malah tidak terjaga sama sekali.

Bahkan dengan kurangnya staff ahli perpustakaan menyebabkan sumber daya teknologi yang telah disediakan perpustakaan tidak terlaksana dengan maksimal. Masih banyak staff yang belum memiliki pengalaman mengoperasikan aplikasi terapan pengelolaan bahan pustaka.

Masalah-masalah pustakawan dan koleksi memang sering menjadi suatu hal yang menonjol di perpustakaan. Namun ikhwal tersebut bukan menjadi alasan permasalahan tersebut tidak bisa diselesaikan. Mengingat seiring waktu segala upaya dan teknologi selalu terbarukan, tinggal butuh kesiapan perpustakaan untuk tetap terbuka dengan segala kebaruan.

***

*) Penulis adalah Ferika Sandra, Mahasiswa Jurusan Perpustakaan dan Ilmu Informasi UIN Maulana Malik Ibrahim.

*) Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com