Pilkada Kaur 2020, Antara Penantang vs Petahana

Home / Kopi TIMES / Pilkada Kaur 2020, Antara Penantang vs Petahana
Pilkada Kaur 2020, Antara Penantang vs Petahana Prediksi kontestan Pilkada Kaur 2020 (FOTO: Rochman/TIMES Indonesia)

TIMESJAKARTA, PALEMBANG – Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu bakal melaksanakan Pilkada Serentak 2020. Sejumlah kandidat disebut-sebut bakal berpasangan untuk ikut dalam kontestasi Pilkada Kaur 2020.

Tokoh yang disebut-sebut bakal berpasangan yakni Gusril Pausi, S Sos, MAP (Petahana, Ketua DPC Golkar Kaur, asal Kaur bagian Utara) yang dikabarkan akan berpasangan dengan Medi Yuliardi, ST (Pengusaha Lokal, asal kaur bagian utara).

Kemudian AKBP H Lismidianto, SH, MM (Purnawirawan Polisi dr Polda Bengkulu asal kaur bagian utara)  yang dikabarkan akan berpasangan dengan Herlian Muchrim, ST (Mantan Anggota DPRD Kab Kaur dari Partai Golkar).

Selanjutnya ada Herman Suardi, SE, MM (Birokrat Sumsel Berpengalaman asal Kaur bagian Selatan) yang dikabarkan akan berpasangan dengan Martina Sulistyawati (Ketua DPC PDIP Kab. Kaur).

Bagaimana potensi kekuatan kandidat di Pilkada Kabupaten Kaur ini. Rumah Citra Indonesia (RCI) punya kajian dan analisis soal ini.

Jika pada lima tahun lalu, petahana mampu memenangkan hampir seluruh wilayah di Kabupaten KAUR dengan persentase 44,96 persen, pada pilkada 2020 ini bakal mendapatkan tantangan yang sepadan jika pasangan di atas bakal maju.

Hal ini berdasarkan tiga alasan. Pertama alasan Daftar Pemilih Tetap (DPT).Berdasarkan pencermatan DPT KPU Kabupaten Kaur pada Pemilu 2019, total pemilih di Kabupaten Kaur mencapai 89.986 orang yang terdiri dari laki-laki 45.408 orang dan perempuan 43.934 orang. 

Pemilih tersebar di 15 Kecamatan diantaranya Kecamatan Kaur Selatan dengan jumlah DPT Laki-laki 5.130 orang dan Perempuan 5.230 orang. Kecamatan Tetap DPT Laki-laki 2.629 orang dan Perempuan 2.574 orang. Kemudian, Kecamatan Kaur Tengah DPT Laki-laki 1.759 orang dan Perempuan 1.809 orang. Kecamatan Luas DPT Laki-laki 2.034 orang dan Perempuan 1.917 orang.

Adapun Kecamatan Muara Sahung DPT Laki-laki 2.988 orang dan Perempuan 2.711 orang. Kecamatan Semidang Gumay DPT Laki-laki 2.394 orang dan Perempuan 2.255 orang. Sedangkan Kecamatan Kinal DPT Laki-laki 1.894 orang dan Perempuan 1.779 orang.Kecamatan Kelam Tengah DPT Laki-laki 2.811 dan DPT Perempuan 2.758 orang.

Sementara itu, Kecamatan Kaur Utara DPT Laki-laki 2.961 orang dan Perempuan 2.837 orang. Kecamatan Lungkang Kule DPT Laki-laki 1.550 orang dan Perempuan 1.502 orang. Sedangkan Padang Guci Hilir DPT Laki-laki 1.451 orang dan Perempuan 1.363 orang. Kecamatan Padang Guci Hulu DPT Laki-laki 3.143 orang dan Perempuan 3.070 orang.

Kecamatan Tanjung Kemuning DPT Laki-laki 4.689 orang dan Perempuan 4.564 orang. Kecamatan Maje DPT Laki-laki 5.087 orang dan Perempuan 4.624 orang serta Kecamatan Nasal DPT Laki-laki 5.804 orang dan Perempuan 5.289 orang.

Dari sebaran DPT tersebut, secara sosiologis Kaur dibelah oleh dua wilayah yakni Kaur Bagian Utara dan Kaur bagian Selatan. Kaur bagian utara yang terdiri 5 kecamatan ada sekitar 35 persen dari total DPT sedangkan Kaur Bagian Selatan ada 10 Kecamatan yang total pemilihnya sekitar 65 persen dari total DPT.

Dengan analisa DPT, tersebut calon yang berasal dari wilayah DPT terbanyak atau padat sangat diuntungkan apalagi jika mampu menyolidkan pemilih tersebut.

Alasan, kedua dari segi sosio masyarakat. Pembelahan wilayah Kabupaten Kaur menjadi dua wilayah secara sosiologis berdampak pada pembelahan psikologis pemilih.

"Belakangan Bupati terpilih Kabupaten Kaur berasal dari Kaur Bagian Utara termasuk petahana saat ini dari Padang Guci yakni Gusril Pausi, S Sos yang notabene sebaran pemilihnya tidak sepadat Kaur Bagian Selatan. Hal ini membuat ada perubahan psikologi pemilih terutama Kaur Bagian Selatan menginginkan ada pimpinan dari Kaur Bagian Selatan.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi petahana untuk mempertahankan suara dari pemilih yang bukan basis sosiologisnya. Sekaligus ini menjadi peluang bagi tokoh atau kandidat dari Kaur Bagian Selatan dalam hal ini Herman Suardi, apalagi kandidat lain yang disebut-sebut bakal maju juga berasal dari Kaur Bagian Utara.

Namun dengan catatan, pihaknya mampu menyolidkan pemilih Kaur Bagian Selatan yang mencapai sekitar 65 persen dari DPT. Jika ini bisa dilakukan bisa saja HS meraih suara signifikan dari Kaur Bagian Selatan dan berpeluang menangkan kontestasi.

Alasan ketiga, dilihat basis keunggulan kompetitif dan komparatif. Dari sisi ini yang perlu dilihat yakni pengalaman atau jejak rekam, jaringan politik dan modal sosial kapital.

Dari sisi pengalaman ketiga kandidat yang diprediksi maju mempunyai pengalaman berbeda. Namun tentunya hanya petahana yang sudah memiliki pengalaman secara psikologi politik dengan masyarakat Kaur apakah puas atau tidak dengan kepemimpinannya selama lima tahun ini.

Jika mayoritas tidak puas maka Petahana akan dibayang-bayangi harapan baru Kaur dari penantang yang juga punya jejak rekam menarik pemilih seperti Herman Suardi tokoh asal Kaur yang juga birokrat berpengalaman di pemerintahan di wilayah Provinsi Sumsel serta AKBP Lismedianto Purnawiran Kepolisian di Polda Bengkulu.

Jika harapan baru ini ternyata lebih menarik perhatian maka secara psikologi pemilih akan bisa menjadi batu sandungan serius petahana.

Parameter selanjutnya, Jaringan politik. Ketiga kandidat dikabarkan bakal diusung oleh partai politik maka kandidat dipastikan memiliki jaringan politik sampai level masyarakat. Komposisi parpol di Kaur juga relatif merata dengan Partai Golkar yang menjadi pengusung petahana dan sebagai pemenang pemilu 2019 dengan 6 kursi dari 25 kursi.

Petahana juga bakal menghadapi jaringan sosial dan kekerabatan para penantangnya. Kabupaten Kaur berasal dari bermacam-macam suku asli yaitu suku Besemah, Semende, Nasal dan Kaur. Selain itu terdapat suku pendatang yang juga tinggal dan menetap di Kabupaten seperti Minangkabau, Palembang, Jawa, Madura, Aceh, Bugis, Batak, Bali.

Misalkan Herman Suardi merupakan tokoh asli Suku Kaur namun punya pengalaman dengan jejaring sosial diluar Kaur. Kabarnya calon wakilnya juga berasal dari Suku Jawa yang sebarannya cukup merata hampir 20 persen.

Begitu juga dengan AKBP Lesmidianto juga tentunya punya jaringan sosial selama aktif di Kepolisian. Hal ini menjadi modal sosial bagi kandidat tersebut.

Terakhir parameter modal kapital atau biaya politik. Modal ini sangat menentukan karena parameter keunggulan komparatif dan kompetitif kandidat bakal digerakkan oleh biaya politik ini.

Dalam konteks ini petahana lebih diuntungkan namun bukan berarti penantang tidak memiliki biaya politik. Dengan niat, seriusnya dan kapasitasnya maju melalui jalur partai politik tentu sudah mempertimbangkan segala hal termasuk cost politic sebagai syarat maju dan modal kampanye di Pilkada Kaur 2020. (*)

*) Penulis : Fatkurohman, CMT, S Sos, Blogger, Jurnalis TIMES Indonesia dan Penulis Analisa Opini Publik di Rumah Citra Indonesia (RCI).

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com