Kurban Menyembelih Privilese-isme

Home / Kopi TIMES / Kurban Menyembelih Privilese-isme
Kurban Menyembelih Privilese-isme Muhammad Dzal Anshar, ASN Kemenag Sul-Sel. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESJAKARTA, SULAWESI – Izinkan saya menyadur sebuah hadis dari Sayyidah Aisyah ra, yang di riwayatkan bil makna oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah:

"Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh Bani Adam/manusia pada hari raya Kurban yang lebih dicintai Allah SWT dari menyembelih hewan Kurban. Sesungguhnya hewan Kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya".

Pertanyaannya kemudian, mengapa harus tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya? bukankah yang lebih banyak dikonsumsi dari hewan kurban adalah dagingnya? Sementara ketiga bagian itu lebih banyak dijual atau dibuang.

Akan selalu ada ruang untuk berdebat di medan makna, sudah selaiknya segala hal yang disampaikan Rasulullah mengandung hikmah dan makna takwil, sehingga harus dinanang secara mendalam untuk memahaminya.

Rupanya ketiga bagian yang disebut itu adalah bagian paling 'tidak berguna' dari hewan kurban, di sini Rasulullah menegaskan bahwa berkurban sesungguhnya bukan hanya pengorbanan materi, sebab bagian paling tidak berguna dari hewan kurban saja akan sangat berguna di hari akhir kelak.

Tidak sekadar berkurban materi, tentu ada substansi yang harus ditadaburi dalam pelaksanaan penyembelihan hingga ke proses pembagian daging kurban, sebagai ibadah yang mengandung anasir hablu min Allah dan hablum min al-nas.

Mengenang kembali peristiwa kurban pertama yang ditunaikan oleh umat manusia, dikisahkan tentang Habil dan Qabil sebagai Bani Adam generasi pertama, kronologi kisah keduanya diperinci oleh Al-Qurtubi dalam tafsirnya.

Setelah anak-anak Adam dewasa Allah SWT mengizinkannya untuk menikahkan mereka, Qabil dengan saudari kembar Habil yakni Layudha yang berparas kurang menarik, dan Habil dengan saudari kembar Qabil, Iqlimiyah, yang berparas menarik, agar sama-sama menghasilkan keturunan yang baik. Keputusan itu rupanya diprotes oleh Qabil yang menginginkan saudari kembarnya Iqlimiyah, sebagai solusi, keduanya diperintahkan untuk mempersembahkan kurban, siapa yang kurbannya diterima maka dialah yang berhak menikahi Iqlimiyah.

Qabil berprofesi petani mempersembahkan gandum dan Habil berprofesi peternak mempersembahkan domba muda nan gemuk, Allah SWT rupanya menolak kurban Qabil yang sedari awal menentang keputusan atasnya.

Dari kisah ini, terlalu naif bila kita sekedar paham dan meyakini bahwa diterimanya kurban Habil adalah karena persembahan hasil ternak terbaik, dan alasan ditolaknya kurban Qabil adalah karena mempersembahkan hasil panen yang kurang baik akibat terlanjur dirasuki dengki.

Secara esoteris, ditolaknya kurban Qabil adalah karena ia memahami bahwa perintah kurban hanya sekedar pengorbanan material, padahal lebih penting dari itu, berkurban adalah tentang menyembelih rasa ego, keinginan untuk menang sendiri dan tak peduli dengan hajat hidup orang lain. Sementara Habil, tidak semata mengurbankan domba terbaik (materi), ia bahkan rela "mengurbankan" dirinya sendiri atas saudaranya, Habil meyakini tak ada pembenaran baginya untuk melawan apalagi membunuh saudara kandungnya.

Memaknai kisah kurban, sebagai seorang jelata saya menyimpan anxiety, di antara mereka yang berkurban dari kalangan borjuis ada yang berprofesi pejabat nyambi pengusaha tambang, direktur BUMN, pengusaha ekspor-impor, CEO Startup, sosialita pebisnis barang branded atau artis youtuber dengan subscriber jutaan.

Yang agaknya bagi mereka tak ada masalah bahkan jika syariat mewajibkan hewan yang dikurbankan haruslah sapi limusin dengan berat minimal 1 ton.

Namun sudahkah mereka berkurban dengan sebenar-benarnya kurban? Adakah mereka telah menyembelih hedonisme, kapitalisme, privilese-isme, kebutuhan akan citra, kehausan akan status sosial dan kebuasan akan kemewahan? Adakah kurban bagi mereka adalah amalan yang kultus? Atau kurban tak ubahnya kebutuhan afirmatif dan visual layaknya berswafoto di depan Kakbah, mengendarai sepeda Brompton, selfie menghadap cermin menggunakan HP cap apel krowak, atau sensasi menikmati kopi Starbucks.

Tidakkah mereka merasa insecure saat bergaul dengan mayoritas rakyat Indonesia yang saat masuk ke Indomaret masih bingung memilih antara es krim Vienetta atau es krim Aice? Benarkah mereka betul-betul menunaikan amalan yang dicintai Allah itu? Atau mereka sedang melanjutkan tradisi Qabil yang sekedar menyerahkan sesuatu berupa materi? Atau mungkin lebih menyedihkan, mereka tidak hanya membunuh manusia, tapi membunuh kemanusiaan.

Kurban yang sejatinya bermakna 'dekat' nampaknya telah terdisrupsi, ia justru menciptakan jarak sosial, seolah mengafirmasi mana yang inferior dan mana yang superior.

Data BPS tahun 2019, menunjukkan masih terdapat 24jt+ rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, yang sepertinya terus bertambah seiring dengan berlarutnya pandemi corona dengan segala tetek-bengeknya.

Tak terbayang bertapa menderitanya menjadi kaum High Net Worth Individual (HNWI) 'individual dengan kekayaan tinggi' di Indonesia, menyaksikan jutaan orang hidup dalam kemiskinan. Setiap hari kuping mereka berdengung mendengarkan orang menjerit hanya karena persoalan sepele seperti kenaikan tarif listrik, iuran BPJS atau sekedar mitos tentang akan dihapuskannya premium.

Betapa bumi-langitnya dengan mereka yang sanggup pulang balik Umrah, mendirikan mesjid dengan dana pribadi atau membagikan kupon daging kurban kepada 1.000 warga kurang mampu. Fidel Castro pada poinnya mengatakan, kapitalisme tidak memiliki kapasitas, moralitas, maupun etika untuk menyelesaikan masalah kemiskinan.

Akhir kata, menyambut hari raya adha, semoga Allah SWT senantiasa meleburkan cinta di antara kita semua, sebagaimana meleburnya cinta Ibrahim kepada Ismail kedalam cinta kepada Allah SWT, Aamiin yaa mujiibas saailiin. (*)

***


*)Oleh: Muhammad Dzal Anshar, ASN Kemenag Sul-Sel.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Tags:

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com