Loge de Vriendschap: Napak Tilas Freemasonry di Surabaya

Home / Pendidikan / Loge de Vriendschap: Napak Tilas Freemasonry di Surabaya
Loge de Vriendschap: Napak Tilas Freemasonry di Surabaya Gedung BPN Surabaya bekas Loge de Vriendschap masih berdiri kokoh di tengah hingar bingar Jalan Tunjungan, Surabaya, Sabtu (15/2/2020). (Foto : Candra Wijaya/TIMES Indonesia)

TIMESJAKARTA, SURABAYA – Gedung Badan Pertanahan Nasional (BPN) berdiri megah di Jalan Tunjungan. Bangunan artistik ini merupakan bekas loge atau loji Freemasonry masa VOC di Surabaya

Fisik bangunan masih asli. Jejak sejarahnya juga masih kental terasa. Terdapat lambang jangka mistar membentuk intervensi dua segitiga dan tangan berjabat sebagai simbol kelompok elit yang konon keberadaannya sulit terdeksi. Terletak di bagian atas pilar gedung. Sedangkan pada bagian lain tertulis tahun 1811, ada tanggal dan prasastinya. Juga tulisan ‘SW’, sebuah kode. 

Dahulu gedung ini bernama Loge de Vriendschap. Lokasinya agak menjorok ke dalam tepat depan Hotel Majapahit. Kanan kiri bangunan pencakar langit. Seputar Jalan Tunjungan memang istimewa. Beberapa bangunan menjadi cagar budaya. De Vriendschap sendiri dalam bahasa Inggris berarti The Friendship. Sementara dalam Bahasa Indonesia berarti pamitran atau pertemanan.

Gedung-BPN-Surabaya-a.jpg

Menurut sejarah, pembangunan loge tersebut diinisiasi oleh Jacobus Albertus Van Middelkop pada 28 September 1809. Didirikan pada masa Herman Williem Daendels yang juga seorang Mason. Sementara Raffles masuk Organisasi Freemason pada tahun 1813. Ia mendapat kenaikan pangkat sebagai anggota baru di loge ini. 

Organisasi ini sangat tertutup dan ketat dalam menerima anggota baru. Freemason bukan organisasi agama dan tidak berdasarkan pada teologi apapun. Freemason merupakan organisasi internasional yang awalnya merupakan serikat pekerja. Tujuan utamanya adalah membangun persaudaraan dan pengertian bersama akan kebebasan berpikir dengan standar moral yang tinggi.

Nama ‘mason’ sendiri dalam bahasa Inggris berarti pekerja atau tukang. Sedangkan free berarti bebas. Kemudian diartikan sebagai tukang yang bebas atau pembangun kebebasan. Berdasarkan filosofi, Freemason berasal dari serikat pekerja, dan mereka saat itu banyak pekerjanya adalah pembuat bangunan.

Gedung-BPN-Surabaya-b.jpg

Freemason kerap menggunakan simbol-simbol melalui arsitektur. Mereka membuat gedung di pusat-pusat kota agar bisa gampang dikenali. Mereka bekerja melalui simbol, sebagai bahasa universal yang mudah untuk menerangkan sesuatu. 

Menurut keterangan penduduk sekitar pada era itu, para meneer Belanda anggota Freemason seringkali terlihat melakukan sejenis ritual pemanggilan arwah orang mati di halaman gedung. Hingga Loge Freemason oleh kaum pribumi juga disebut sebagai Gedong Setan. 

Namun kemudian hari oleh para delegasi dijawab bahwa hal tersebut merupakan pengucapan dari lidah orang Indonesia terhadap “Saint Jan”, panutan Freemasonry. 

Isu pemujaan Freemason mengusik istana. Pada Maret 1950, Presiden Soekarno memanggil tokoh-tokoh Freemasonry tertinggi Hindia Belanda yang berpusat di Loji Adhucstat (sekarang Gedung Bappenas-Menteng) untuk mengklarifikasi hal tersebut.

Pada tahun 1961 Presiden Soekarno membuat Peraturan Penguasa Perang Tertinggi (PEPERTI) yang pada pokoknya berisi seluruh organisasi yang tidak sesuai dengan manifesto politik Indonesia harus dilarang dan dibubarkan. Selain itu, sarana dan pra sarana dibawah organisasi yang dilarang tersebut jatuh ke tangan pemerintah.

 Lewat Lembaran Negara nomor 18/1961, Presiden Soekarno membubarkan dan melarang keberadaan Freemasonry di Indonesia. Freemasonry sendiri eksis hingga dikeluarkan PEPERTI tersebut. 

Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 yang membubarkan dan melarang Freemasonry dan segala “derivat”nya seperti Rosikrusian, Moral Re-armament, Lions Club, Rotary Blub, dan Baha’isme. Sejak itu, loji-loji mereka disita oleh negara. 

Pada saat itu, pemerintah gencar menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing termasuk juga menasionalisasi gedung-gedung asing.

 Banyak orang Belanda yang terpaksa pulang karena munculnya sentimen tersebut. Bahkan, aset-aset yang dinasionalisasi termasuk juga loge-loge Freemason. Seperti di Jakarta, bekas loge Freemason sekarang dipakai sebagai gedung Bappenas. Demikian juga Loge de Vriendschap. Pemilik gedung ini pun menyerahkan dokumen gedung pada Yayasan Loka Pamitran. 

Namun pengubahan sertifikat kepemilikan ini hanya diubah namanya menjadi istilah yang Bahasa Indonesianya dimengerti. Jaap Speir, Mason Belanda terakhir, pulang dengan membawa dokumen untuk mendirikan lagi kelanjutan loji tersebut. Setelah Jaap Speir ini pulang, praktis tidak ada lagi Freemason di Indonesia.

Dosen Universitas Airlangga sekaligus peneliti dan pengarsip dokumen Freemason, Sam Ardi dalam beberapa kajian ilmiahnya menemukan tiga buah referensi yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis tentang keberadaan Freemasonry di Indonesia. Bahkan ia menegaskan jika Freemason bukanlah secret society. 

Pertama adalah buku Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962 karya Dr. Th. Stevens. Buku ini merupakan hasil penelitian Dr, Th. Stevens tentang Freemasonry di Indonesia dan diterbitkan tahun 1994 dengan judul Vrijmetselarij en Samenleving in Nederlands-Indië en Indonesië 1764-1962 terbitan Verloren dengan beberapa modifikasi pada beberapa bagian buku edisi Indonesia.

Referensi kedua adalah sebuah paper yang diterbitkan Ohio University yang berjudul Freemasonry in Indonesia from Radermacher to Soekanto, 1762-1961 paper pada international studies bagian Southeast Asia, karangan Paul van der Veur. Paper tipis ini membahas secara singkat keberadaan Freemasonry di Indonesia dan anggota-anggotanya. 

Referensi ketiga adalah buku Teosofi, Nasionalisme & Elite Modern Indonesia karya Iskandar P. Nugraha. Awalnya buku ini merupakan skripsi dia di Universitas Indonesia, buku tersebut merupakan cetakan ulang yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com