Catatan Perjalanan Haji KH Tauhidullah Badri (9)

Ibadah Haji Merupakan Tarbiyah Ilahiyah

Home / Opini / Ibadah Haji Merupakan Tarbiyah Ilahiyah
Ibadah Haji Merupakan Tarbiyah Ilahiyah JCH Indonesia berthawaf mengelilingi Kakbah (FOTO: KH. Tauhidullah Badri for TIMES Indonesia)

TIMESJAKARTA, PROBOLINGGO – Haji yang dijalani JCH Indonesia bersama jutaan muslim seluruh dunia setiap tahunnya, bukan sebatas ritual ibadah. Ia juga tidak hanya terdiri dari rangkaian rukun, syarat dan wajib haji semata. Lebih dari itu, ada tarbiyah ilahiyah di dalamnya.

Ia merupakan pendidikan ketuhanan, diklat (pendidikan dan pelatihan) langsung dari Allah, agar mereka yang berhaji tak hanya menyandang predikat "Pak Haji" atau "Ibu Hajjah".

Tapi betul-betul bisa menjadi pribadi yang lebih baik, meningkat kualitas dan kuantitas ketaatannya kepada Allah SWT, akhlaknya menjadi lebih bagus kepada sesama, dan hatinya menjadi lebih bersih dari bebagai penyakit hati. Ini merupakan tanda kemabruran haji seseorang.

Meski memiliki segudang keistimewaan, tanah Mekkah seperti tanah yang lain. Ia tidak dengan sendirinya bisa menyucikan dan menjadikan mereka yang berada di dalamnya menjadi pribadi yang lebih baik.

Proses menuju menjadi pribadi yang lebih baik tergantung dari dirinya. Tempat dan momentum hanya sebatas penunjang, sebagaimana dikatakan oleh Salman al-Farisi RA:

إِنَّ الْأَرْضَ لَا تُقَدِّسُ أَحَدًا, وَإِنَّمَا يُقَدِّسُ الْإِنْسَانَ عَمَلُهُ

Sungguh tanah (atau tempat) tidak mensucikan seseorang, yang bisa mensucikan hanyalah amalannya (HR Malik di al-Muwaththa` nomor 2842).

Keberadaan sesorang di kota Mekkah dan momentum pelaksanaan haji seperti saat ini, merupakan kesempatan memperbaiki diri.

Itu jika disertai dengan kesadaran, komitmen, ikhtiar, pembiasaan melakukan hal positif atau amal shaleh, dan mengikuti dengan sungguh sungguh diklat yang diprogramkan oleh Allah selama pelaksanaan ibadah haji. 

Di antaranya, sebagaimana disebut dalam QS Al-Baqarah ayat 97:  (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan tersebut untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa jamaah haji dididik dan dilatih untuk bersikap baik kepada sesama, dengan menjaga lisan dan menumbuhkan akhlak mulia dan mengelola hati agar tetap selalu bersih.

Semoga JCH Indonesia meraih predikat haji mabrur, dan berhasil menjalani diklat yang diprogramkan oleh Allah selama pelaksanaan ibadah haji. Amin. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com